Mengintip Potensi dan Peluang Silahisabungan, Kabupaten Dairi Menjadi Bagian dari Kawasan Strategis Pariwisata Nasional dan UNESCO Global Geopark

0
675
Pemandangan Kawasan Objek Wisata Pulau Paropo Silahisabungan
Pemandangan Kawasan Objek Wisata Pulau Paropo Silahisabungan

DISPARBUDDAIRI.com – Silahisabungan yang terbentang antara 02 48 40.96 LU dan 98 31 19.28 BT dengan ketinggian 956 dari atas permukaan laut dengan luas wilayah 75.62 km2 dan jumlah penduduk 5.319 jiwa terletak di bibir Kawasan Danau Toba ditempuh sekitar 3 jam melalui jalur darat dari Kota Medan yang merupakan salah satu kecamatan dari total 15 kecamatan di bagian Timur Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara.

Air Terjun Simandar di Desa Silalahi II, SilahisabunganAir Terjun Simandar di Desa Silalahi II, Silahisabungan

Silahisabungan berada di Kawasan Danau Toba yang merupakan warisan bumi pemberian dan anugerah terindah Tuhan Yang Maha Kuasa melalui fenomena alam terbentuk dari hasil letusan maha dahsyat (super volcano) Gunung Toba 74.000 tahun yang lalu. Meninggalkan bentangan alam kaldera yang sungguh mempesona, danau yang terluas di Asia, bebatuan yang sangat bernilai sejarah tinggi, hewan dan tumbuhan yang khas serta budaya yang unik dan menarik.

Masyarakat Sumatera Utara khususnya di Kawasan Danau Toba termasuk Silahisabungan sangat mendambakan capaian geliat dan era emas kejayaan Danau Toba puluhan tahun yang lalu kembali bersinar dengan merindukan kehadiran banyaknya kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara memilih Danau Toba menjadi tujuan wisata yang populer dengan menawarkan pesona alam yang luar biasa indah dan geologi yang sangat bersejarahserta budaya lokal yang kental, unik nan menarik begitu juga kulinernya yang khas.

Harapan baru dan angin segar berhembus dari Pemerintahan Jokowi –JK dengan ditetapkannya Kawasan Danau Toba menjadi salah satu Kawasan Strategis Pembangunan Pariwisata Nasional. Keseriusan dan komitmen tersebut mendukung dan melanjutkan era pemerintahan SBY-Boediono dalam mengembangkan pembangunan Kawasan Danau Toba yang telah menetapkan Geopark Nasional Kaldera Toba (GNKT) pada Maret 2014 yang sebelumnya disambut baik dengan penandatanganan Pernyataan Kesepakatan dan Dukungan Pemerintah Daerah Terhadap Pengembangan Geopark Kaldera Toba Provinsi oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara serta tujuh kepala daerah di Kawasan Danau Toba meliputi Samosir, Tapanuli Utara, Simalungun, Humbang Hasundutan, Toba Samosir, Karo dan Dairi pada Bulan Desember 2013 yang lalu.

Sebagai pendukung persiapan pendaftaran GNKT menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark (UGG) maka Pemprovsu membentuk Badan Pengelola Geopark Kaldera Toba (BP GKT), Tim Percepatan GKT. Kemudian ntuk memperkuat pengembangan Kawasan Danau Toba, pemerintah membentuk Badan Otorita Danau Toba yang fokus terhadap pembangunan infrakstruktur jalan, bandara, hotel, pelabuhan, pertamanan, sarana olahraga dan lain-lain. Selanjutnya Pemprovsu merombak personil BP GKT yang telah dikukuhkan oleh Wagubsu pada Januari 2018 yang lalu dengan melibatkan personil dari tujuh kabupaten se-Kawasan Danau Toba dengan penguatan dan pengefektifan tupoksi.

Konsekuensi dari ditetapkannya Danau Toba termasuk Silahisabungan menjadi KSPN dan GNKT maka akan memungkinkan prioritas kucuran anggaran pembangunan akan tertuju ke Kawasan Danau Toba.

Pemerintah Kabupaten Dairi melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan mendukung dan menyambut baik program GNKT di kawasan Geosite Silahisabungan dengan mengadakan sosialisasi GNKT terhadap masyarakat bekerjasama dengan Pemprovsu juga pembangunan fisik seperti jalan setapak menuju situs Aek Si Paulak Hosa, Jalan Setapak Menuju Pertanian Bawang, Rehabilitasi Gerbang Geopark, Pengadaan Papan Edukasi dan Pengadaan Kantor Pusat Geopark kaldera Toba Geosite Silahisabungan dan pada tahun 2018 akan diadakan pembangunan jalan di Silalahi. Termasuk Pemkab Dairi menjadi tuan rumah Festival Danau Toba (FDT) tahun 2018 yang direncanakan pelaksanaannya akan di pusatkan di Silahisabungan.

Diyakini kebijakan tersebut merupakan langkah yang sangat positif dan visioner dalam menjaga, melestarikan, memelihara dan mengembangkan serta mempromosikan warisan bumi tersebut demi mendongkrak perekonomian dan pendapatan masyarakat dengan mengupayakan kerja Keras dan sinergitas oleh semua pihak termasuk pemerintah, para pemangku kepentingan (stake holder), kelompok masyarakat dan seluruh komponen masyarakat dalam mewujudkan GNKT masuk dan terdaftar di UGG yang telah didaftarkan kedua kalinya oleh Pemerintah RI pada bulan November 2017 yang lalu seraya berharap out put-nya kita menjadi bagian dari UGG pada tahun 2019 yang akan datang.

Tao Silalahi memungkinkan dikelola dengan fasilItas olahraga air seperti, berenang, speed boat, dayung juga arena, memancing dan juga restoran terapung dengan rute mengelili kawasan Silahisabungan dan juga zonasi pembudidayaan ikan air tawar dengan konsep ramah lingkungan. Sementara di Pulau Silalahi dan Paropo sangat menarik menjadi tempat perkemahan (camping ground) yang memang sekarang masih berlangsung dan juga jungle tracking, eco tourism, rute epeda santai dengan pesona pemandangan bentang alam kaldera yang fantastis, arena terjun payung bebas serta pembangunan kereta gantung atau gondola atau cable car dan juga PLTA Renun 2×41 MW dengan air terjunnya memutar turbin berada di bibir Tao Silalahi bisa dimanfaatkan sebagai objek wisata pendukung.

Salah Satu Spot Bumi Perkemahan di SilahisabunganSalah Satu Spot Bumi Perkemahan di Silahisabungan

Potensi dan peluang Silahisabungan memenuhi konsep GNKT yaitu keragaman geologi (geo diversity) dengan beragam situs seperti Pagar Parorot, Batu Sigadap dan Sijonjong, Deyang Namora, Aek Sipaulak Hosa memungkinkan dikembangkan wisata alam (eco tourism) kemudian dari sisi keragaman hayati (bio diversity) seperti Mangga Silalahi yang khas rasa dan ukurannya, Bawang Silalahi yang unik dan hanya tumbuh di sela-sela bebatuan dan tanah kaldera juga ikan, Si Tohap konon masakan kesukaan Raja Silahisabungan bubur nasi khas Silalahi dicampur daun si tohap yang hanya tumbuh di muara sungai jernih air terjun sangat berpeluang dikemas menjadi Agro Wisata selanjunya dari sisi keragaman budaya (culture diversity) memilik bahasa dengan logat Silalahi, Ulos/Gobar Silalahi, Rumah Bolon, Musik dan Tortor yang unik serta Makam Tugu Raja Silahisabungan yang merupakan asal usul nenek moyang Silalahi merupakan satu-satunya di dunia ini tugu di pestakan setiap tahunnya dengan kepanitiaan bergilir setiap keturunannya yang sangat berpotensi dikembangkan wisata budaya.

Masih banyak potensi dan peluang yang sangat memungkinkan dikembangkan di Silahisabungan baik dari sisi keragaman geologi, keragaman hayati dan keragaman budaya demi kemajuan pariwisata. Kita berharap potensi dan peluang yang beragam dan unik di Silahisabungan, Kabupaten Dairi dijaga, dirawat, dipelihara, dikembangkan, dikelola dan dikemas seapikmungkin serta dipromosikan mendunia yang telah menjadi bagian dari KSPN dan GNKT akan bisa dinikmati masyarakat tempatan dengan harapan peningkatan kunjungan wisman domestik dan mancanegara yang bermuara pada peningkatan ekonomi dan pendapatan masyarakat dan pemerintah melalui satu impian kita bersama masuknya GNKT ke jejaring badan dunia UGG. (Mosanda Tampubolon, SS)

Tugu Silahisabungan

Tugu Silahisabungan