Riwayatmu Kini Lae Pandaroh di Taman Wisata Iman Sitinjo

0
547
Lokasi Johannes Pembaptis
Lokasi Johannes Pembaptis

Sitinjo, DISPARBUDDAIRI.com – Lae Pandaroh terletak di Kecamatan Sitinjo Kabupaten Dairi Sumatera Utara berasal dari Bahasa Pakpak dengan etimologi ‘lae’ artinya sungai, ‘pan’ berarti makan dan ‘daroh’ bermakna darah. Lae Pandaroh secara harfiah dapat diartikan Sungai Pemakan Darah. Konon di jaman Kejayaan Raja Sisingamangaraja XII dan masa G30 S PKI sungai tersebut menjadi tempat pembuangan mayat.

Di Daerah alirannya di sekitar Bukit Sitinjo terdapat juga situs batu besar diyakini sebagai tempat menjemur emas oleh nenek moyang Merga Kudadiri yang kaya raya kala itu.

Kini Pemerintah Kabupaten Dairi melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan telah memanfaatkan aliran sungainya dengan membangun Patung Yohannes Pembabtis. Mengingatkan umat kristen akan Sungai Jordan di Timur Tengah dimana Tuhan Yesus Kristus dibabtis oleh Yohannes Pembabtis seperti dikisahkan dalam Alkitab Perjanjian Baru.

Mosanda Tampubolon KASI Pemasaran Pariwisata di Lokasi Johannes Pembaptis
Mosanda Tampubolon KASI Pemasaran Pariwisata di Lokasi Johannes Pembaptis TWI

Tempat ini juga acap kali digunakan sebagai wahana acara sakral ‘babtis selam’ oleh Umat Kristen yang dipimpin oleh para Pendeta dari berbagai Gereja Kharismatik yang berada di kawasan Objek Wisata Religi 5 agama kebanggaan dan ikon kebanggaan Pemerintah dan masyarakat Dairi.

Lae Pandaroh yang mengalir manja membelah lokasi Taman Wisata Iman Sitinjo dengan lebar sekitar 4 m dan kedalaman rata-rata 1 meter sebelum hilirnya menyatu ke Lae Renun pesonanya lazim dikenal dengan ‘Air Terjun Lae Pandaroh Tujuh Tingkat’ dan juga ‘Air Terjun Sampendabah’ menyuguhkan mirip rambut malaikat putih indah mengkristal dengan ketinggian 30 meter yang telah dikelola Pemkab Dairi dengan membangun jalan setapak sekitar 500 meter terdiri dari 197 anak tangga, 8 tikungan manis dan 2 area istirahat dan spot swaphoto.

Sungai ini juga dikenal unik dengan menawarkan tiga warna air, yaitu cerah atau jernih, terkadang keruh dan juga berwarna memerah seperti darah namun diyakini ketika kita menggunakan atau mengkonsumsinya tidak mengakibatkan penyakit bahkan justru sebaliknya menyegarkan dan menyembuhkan.

Lae Pandaroh dengan hulu Sicikecike disepanjang Daerah Alirannya kini juga menjadi tempat galian C penampungan pasir, pengairan sawah dan kolam serta arena memancing tradisional ikan batak ‘batang/gemmuh/ihan’ dan udang gala lobster ‘gurappang’ yang khas masih ada hingga sekarang.

Lokasi ini juga dimanfaatkan untuk wisata religi, sarana olahraga, jogging track, camping ground, serta sarana belajar mencintai lingkungan tempat bermeditasi mendekatkan diri kepada sang khalik alam semesta. (Mosanda Tampubolon).