Situs Batu Kerbo Kisah Perdamaian Marga Angkat dan Saraan

0
1900
Situs Batu Kerbo Kisah Perdamaian Marga Angkat dan Saraan
Situs Batu Kerbo Kisah Perdamaian Marga Angkat dan Saraan

DisparbudDairi.com – Situs ini ada di Desa Bantun Kerbo, Kecamatan Lae Parira.Terletak di tebing barat ruas sungai lae simbelen. Nama batu kerbau ditujukan terhadap obyek berupa pahatan menyerupai kerbau, dimana pahatan tersebut lengkap dengan badan ,kepala, mata, hidung, mulut, dan seperti tanduk. Ukuran batukerbau adalah 172 cm x 142 cm dengan tinggi 97 cm. Menurut sejarah batu kerbo terjadi karena adanya  ketidak jujuran dan saling menghargai antara sesama manusia.

Berawal dari seorang marga Saraan dari lebbuh(kampung) Saraan meminang putri dari pertaki Angkat yang memiliki paras yang sangat cantik tapi memiliki kekurangan yaitu cacat fisik (tidak bisa berjalan).

Walaupun kondisi putri nantampuk mas marga Angkat cacat namun pernikahan antara putri nantampuk mas dengan Saraan tetap berlangsung dengan syarat marga Saraan tidak boleh membiarkan putri nantampuk mas berjalan kaki  menuju lebbuh (kampung) Saraan, tetapi putri nantampuk mas tersebut harus diangkat sampai kerumah marga Saraan. Selama berminggu-minggu putri nantampuk mas tinggal dirumah Saraan tetapi putri nantampuk mas tidak pernah keluar dari kamar, sehingga pihak marga Saraan curiga terhadap keadaan putri nantampuk mas. Akhirnya pihak keluarga marga Saraan memeriksa keadaan putri nantampuk mas dan keluarga Saraan terkejut melihat putri nantampuk mas, karena ternyata istri yang disayangi Saraan tersebut ternyata tidak bisa berjalan. Walaupun demikian Saraan tetap sayang dan penuh kasih kepada putri nantampuk mas. Berbeda dengan adik ipar dan mertuanya yang semula menyanyangi putri nantampuk mas berubah menjadi benci, karena putri nantampuk mas hanya menjadi beban bagi keluarga Saraan. Berbagai hinaan sering dilontarkan terhadap putri  nantampuk mas, sehingga putri nantampuk mas tidak sanggup lagi untuk bertahan di rumah Saraan dan memilih untuk kembali ke rumah orang tuanya di lebbuh (kampung) marga angkat.

Dengan ditemani seekor anjing, putri nantampuk mas kembali ke lebbuh (kampung) marga Angkat. Kejadian ini dianggap penghinaan oleh marga Angkat yang mengakibatkan marga angkat mergraha(berperang) melawan marga Saraan, namun setelah marga Saraan mendengarkan berita tersebut marga Saraan takut dan datang untuk minta maaf  kepada marga Angkat, dan sebagai tanda perdamaian (maaf yang diberikan marga Angkat kepada marga Saraan) maka marga Saraan harus membayar 7 (tujuh) ekor kerbau kepada marga Angkat.Tetapi kerbau yang yang diberikan marga Saraan hanya 6 (enam) ekor, dan 1(satu) ekor lagi sebagai utang dari marga Saraan.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, namun utang tersebut tidak dibayar oleh marga Saraan. Suatu saat marga Angkat mengadakan pesta besar yang harus menyembelih 7 (tujuh) ekor kerbau, tapi kerbau yang tersedia hanya 6(enam) ekor. Marga angkat menagih hutang 1(satu) ekor kerbau kepada marga Saraan dan marga Saraan menganggap ini suatu penghinaan karena marga Saraan sudah menerima putri nantampuk mas apa adanya. Anggapan marga Saraan walaupun mereka berhutang kepada marga Angkat namun tidak pantas untuk ditagih kembali. Dengan terpaksa marga Saraan menyerahkan 1(satu) kerbau yang diminta marga Angkat, namun dengan susah payah kerbau tersebut ditarik ke lebbuh (kampung) marga Angkat tetapi kerbau tersebut tidak bergerak (melawan). Tiba-tiba alam bergemuruh, petir dan halilintar bersahutan, dan tiba-tiba kerbau yang dibawa marga Saraan berubah menjadi batu dan sayup-sayup terdengar suara aneh, hai cucuku karena pertikaian ini, maka kerbo ini akan kujadikan batu sebagai bukti perdamaian diantara kalian. Di bawah batu ini mengalir air jernih yang tak pernah kering walaupun musim kemarau. Kalau ada keturunan kalian yang sakit, minumkanlah air ini dan bersihkanlah diri dengan air ini supaya ada ketenangan dan kedamaian. Semenjak kejadian itu dinamakanlah batu itu menjadi batu kerbo dan nama desa itu menjadi bantun kerbo.