Situs Perisang Manuk “Penjaga” Dari Desa Tuntung Batu, Silima Pungga-pungga

0
674
Situs Perisang Manuk Desa Tuntung Batu Dairi
Situs Perisang Manuk Desa Tuntung Batu Dairi

DisparbudDairi.com – Situs Batu perisang manuk berada di wilayah Desa Tungtung Batu, Kecamatan Silima Pungga-pungga, Kabupaten Dairi. Batu perisang manuk terletak di tebing tempuran dua alur sungai, yaitu sungai lae tungtung batu dan sungai lae sapu.

Posisi batu perisang manuk berada pada lereng yang relative curam di sekitar lokasi terdapat kebun durian dan jagung yang dikelola oleh marga cibro. Sebelum kita sampai di perisang manuk kita akan disambut dengan patung lelaki dewasa yang menggandeng anaknya dengan mengenakan pakaian adat khas sub-etnis Pakpak yang di cat abu-abu dan dikelilingi pagar besi serta diberi pintu masuk. Makna dari patung ini sebagai penerima tamu yang hendak datang berjiarah ke perisang manuk.


Batu perisang manuk merupakan batu alam yang di ukir dan dibentuk menyerupai kepala burung menghadap kearah ujung tempuran sungai. Pada bagian ujung (yang menyerupai paruh) terdapat ukiran menyerupai bentuk mata dan hidung. Bagian yang berbentuk paruh burung menjadi satu dengan bagian belakangnya dengan diukir garis batas. Pada sisi bagian bawah batu perisang manuk ditopang oleh sebuah batu masing-masing disisi kiri dan sisi kanan. Batu perisang manuk secara keseluruhan memiliki ukuran panjang 2,52 meter, lebar 1,7 meter dan tinggi 1, 79 meter. Adapun ukuran bagian batu yang berbentuk seperti paruh burung 60 cm x 50 cm dengan tebal 30 cm.

Situs Perisang Manuk Desa Tuntung Batu Dairi
Situs Perisang Manuk Desa Tuntung Batu Dairi

Perisang Manuk juga merupakan benda cagar budaya Marga Cibro yang terletak di Kutaekur, Desa Tuntung Batu kecamatan Silima Pungga-Pungga dan terletak di Pinggir Sungai. Perisang Manuk adalah sebuah batu yang menyerupai paruh burung. Menurut Legenda Perisang Manuk ini dapat digunakan sebagai tempat berteduh di kala hari hujan dan pada jaman dahulu masyarakat setempat mengadakan jiarah ditempat ini sebagai ucapan syukur atas hasil panen yang melimpah serta perisang manuk ini diyakini sebagai penjaga kampung, apa bila ada musuh yang datang atau wabah penyakit maka perisang manuk ini akan bergemuruh dengan kuat sehingga melalui suara tersebut masyarakat waspada terhadap musuh atau penyakit yang akan datang. Menurut informasi dahulu didaerah ini terdapat sebuah terowongan yang digunakan sebagai tempat persembunyian disaat Perjuangan Kemerdekaaan. Namun saat ini tidak ada lagi yang pernah masuk ke terowongan tersebut.